Bab I
Pendahuluan[1]
A.
Latar Belakang
Agama
adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik secara
individu maupun dalam kemasyarakatan karena agama mempunyai fungsi yang tidak
terlepas dari tantangan-tantangan yang dihadapi manusia. Menurut Edward Burnett
Taylor, agama adalah kepercayaan pada
sesuatu yang ghaib ( religion is problems of human being ).[2] Sedang menurut Emile Durkhem Agama adalah sistem yang menyatu mengenai
berbagai kepercayaan dan yang terpisah serta terlarang, kepercayaan-kepercayaan
dan peribadatan-peribadatan yang berkaitan dengan benda-benda sakral, yakni
katakanlah, benda-benda peribadatan yang mempersatukan semua orang yang
menganutnya dalam suatu komunitas moral yang disebut gereja.[3]
Agama
adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal, artinya semua
masyarakat mempunyai cara Aberfikr dan pola prilaku yang memenuhi syarat untuk
disebut “agama.” Agama tidak hanya berhubungan dengan idea tetapi juga
merupakan sistem berprilaku yang mendasar. Agama tidak hanya kepercayaan,
tetapi juga amaliyah yang berfungsi mengintegrasikan masyarakat, baik dalam
perilaku lahiriyah maupun yang bersifat simbolik.
Dalam
catatan sejarah hampir tidak ada bangsa yang tidak beragama, apapun bentuk wujud
dari agama itu apakah yang tumbuh dari hasil
pengalaman seseorang atau berupa kepercayaan yang bersifat turun menurun
dari nenek moyang atau diyakini sebagai sabda atau firman Tuhan Yang Maha
Pencipta dan Maha gaib. Mesir Kuno adalah salah satu contoh bangsa yang telah
beragama walaupun berupa kepercayaan yang bersifata politeisme yakni mereka
percaya bahwa para dewa sebagai pemilik Mesir dan firaun sebagai jelmaan dari para
dewa yang dipercaya oleh bangsa Mesir pada saat itu.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang ada maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah
ini, adalah :
1. Apakah Agama Mesir Kuno ?
2. Bagaimanakah dewa-dewa agama Mesir Kuno ?
3. Bagaimana hubungan Firaun dengan dewa dalam agama
Mesir Kuno ?
C.
Tujuan
Tujuan merupakan harapan
yang ingin di capai. Dan harapan dari penulisan makalah ini adalah untuk
mengetahui agama atau Kepercayaan Mesir Kuno.
D.
Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang diharapkan dapat dicapai dari penulisan
makalah ini adalah bertambahnya pengetahuan dan wawasan para pembaca dan
penyusun mengenai agama Mesir Kuno.
Bab II
Pembahasan
1.
Agama Mesir Kuno
Seperti
di wilayah lainnya di Afrika, orang Mesir kuno
menganut politeisme selama Kerajaan Lama, Kerajaan Pertengahan, hingga Kerajaan
Baru. Ini artinya mereka meyakini banyak dewa. Para dewa ini disembah dengan
kurban hewan serta dengan sesajen dan banyak prosesi dimana orang-orang
mengarak patung dewa dari satu tempat ke tempat lain. Mereka meyakini bahwa
seluruh Mesir dimiliki oleh para dewa.
Bangsa
Mesir kuno percaya bahwa setelah seseorang meninggal, maka Anubis menimbang
jiwanya terhadap sehelai bulu, jika jiwanya lebih berat, maka itu artinya
semasa hidupnya orang tersebut lebih banyak mlakukan perbuatan jahat. Dengan
demikian arwah orang itu akan dihukum. Disamping itu mereka juga percaya bahwa
setelah meninggal, arwah manusia pergi ke dunia yang baru, yang mirip dengan
dunia saat ini, oleh karena itu di makam ditaruh berbagai benda yang kira-kira
bakal diperlukan di alam lain. “Pusat kehidupan bangsa Mesir adalah
berkomunaikasi dengan para dewa dan untuk mencapai hal ini, orang Mesir
menciptakan ukiran batu yang luar biasa, mereka membangun piramida, kuil
raksasa dan mendirikan tugu batu yang tinggi.”[4]
Kemudian ada
semacam perkembangan dimana pada masa Kerajaan Baru, firaun Akhenaten memulai
penyembahan dewa baru yang disebut Aten. Ia tampaknya ingin membuat rakyatnya
percaya bahwa Aten adalah satu-satunya dewa yang sesungguhnya, atau mungkin
satu-satunya dewa yang pantas disembah. Setelah Akhenaten meninggal,
orang-orang kembali menyembah bermacam-macam dewa seperti sebelumnya.
Pada 539 SM terjadi
invasi Persia ke Mesir dan tampaknya tidak
memberikan banyak perubahan terhadap agama Mesir. Rakyat Mesir tetap menyembah
dewa-dewi mereka sendiri. Dalam hal ini, bangsa
Persia membanggakan diri karena menganggap telah memberikan toleransi beragama
kepada bangsa Mesir.
Pada 323 SM
ketika Ptolemeos ( Yunani ) menguasai Mesir tampaknya terjadi perubahan dimana
bangsa Mesir mulai menyembah dewa-dewa Yunani, meskipun mereka juga tetap
menyembah dewa-dewa lama Mesir. Pada masa ini
pula, orang Yunani di Athena mulai menyembah dewa Mesir, misalnya Isis. Mereka
mengenal isis dari para pedagang yang berlayar ke Mesir.
Ketika Romawi
menaklukan Mesir pada 30 SM, bangsa Mesir tetap menyembah dewa-dewi mereka
sendiri pada saat yang sama, menyembah
dewa-dewi Yunani dan dewa-dewi Romawi.
2.
Dewa-Dewa
Mesir
Kita tahu
bahwa orang Mesir kuno menganut politeisme artinya mereka meyakini banyak dewa,
misalnya :
a. Isis
(Aset, Usat, Iset). Isis bermakna ratu, dalam bahasa Mesir. Dalam mitologi
Mesir, Isis menikah dengan saudaranya Osiris. Dapat
menghidupkan kembali Osiris. Ibu dari dewa Horus. Memiliki sihir hebat. Orang
Mesir berdoa kepada Dewa Isis dengan harapan dapat dilahirkan kembali.[5]
b.
Osiris (Asar, Asari, Aser, Ausar, Ausir, Wesir, Usir,
Usire, Ausare) adalah dewa tanaman di Mesir Kuno. Itulah kenapa wajahnya
digambarkan berwana hijau, seperti warna sungai Nil yang airnya membuat orang
Mesir dapat menghasilkan panen yang baik. Osiris adalah putra sulung dari dewa
bumi Geb dan dewi langit Nut. Ini terkait dengan kenyataan bahwa tanaman tumbuh
berkat kerjasama antara bumi dan langit. Sebagai raja para dewa, Osiris
mengenakan mahkota firaun dan membawa pelengkung dan pemukul gembala. Osiris
memiliki saudara dan saudari. Ia menikahi saudarinya sendiri, Isis. Sejak
Kerajaan Lama, Osiris telah disembah sebagai dewa
alam maut dan kelahiran kembali, serta sebagai dewa tanaman.[6]
c. Anubis
(Inpu, Anapa) adalah dewa arwah dan alam maut di Mesir pada masa Kerajaan Lama. Anubis adalah dewa yang penting pada proses
persiapan pemakaman sesorang. Ketika jenazah dibalsem untuk dijadikan mumi,
para pembalsem mengenakan kostum Anubis. Anubis juga dipercaya sebagai dewa
timbangan hati, untuk mengetahui apakah seorang arwah baik atau jahat.Pada
perkembangannya Anubis tak lagi dianggap sebagai dewa arwah utama. Sebagai
gantinya, Osiris menempati posisi tersebut. Anubis
mulai dipercayai sebagai putra Osiris, serta sebagai pembatu Osiris ketika
mengurusi para arwah.[7]
d. Mut
(Maut, Mout) bermakna "ibu" dalam bahasa Mesir, dan di Mesir Kuno,
dewi ini disembah oleh orang-orang sebagai dewi
ibu sejak permulaan Kerajaan Lama, sekitar 3000
SM. Mut adalah ibu dari segalanya, seluruh dunia, sehingga orang Mesir
menganggapnya sebagai samudra, karena mereka percaya bahwa pada awal waktu,
segalanya muncul dari samudra. Semua dewa lain dilahirkan dari Mut. Dewa Mut
adalah dewa yang sama dengan dewa ratu Isis.[8]
e. Set
(Seth, Setesh, Sutekh, Setekh, Sluty) adalah saudara Isis dan Osiris, dan seperti mereka, ia juga adalah putra dewi
langit Nut dan dewi bumi Geb. Set adalah sisi gelap dari saudara-saudarinya - Isis
menumbuhkan tanaman, dan Osiris adalah dewa para firaun yang menjaga
keteraturan, namun Set adalah dewa kekacauan. Dalam beberapa kisah, Set
menunjukkan sisi jahatnya ketika ia dilahirkan. Set tak dilahirkan dengan cara
normal, ia keluar dari perut ibunya dengan cara mencabik-cabik rahim dan perut
ibunya.
Dalam
lukisan, Set biasanya digambarkan dengan rambut dan mata merah, sebagai
perlambang bahwa ia aneh dan berbeda. Ia juga memiliki kepala hewan, terkadang
kepala buaya, kuda nil, atau babi hitam, semuanya merupakan hewan-hewan yang
berbahaya.
Dalam suatu
kisah, Set melemparkan saudaranya Osiris ke sungai
Nil lalu mencabik-cabik tubuhnya. Putra Osiris, Horus, mencari Set, yang
merupakan pamannya, dan bertarung dengannya untuk membalas perbuatan Set terhadap
ayahnya. Akibat pertempuran itu, Horus kehilangan mata kirinya, sedangkan Set
kehilangan kemampuan untuk memiliki anak.
Akan tetapi
dalam kisah lainnya, Set dan Horus disebutkan sebagai aspek berbeda dari satu
dewa yang sama. Orang-orang menyembah mereka bersama-sama.[9]
f. Thoth
(Dihauti, Djehuty) adalah dewa pikiran, yang meliputi kecerdasan, pemikiran,
akal, dan logika. Orang Mesir sering menganggap Thoth sebagai jantung dan lidah
dewa matahari Ra, karena jantung dipercaya sebagai tempat kecerdasan. Thoth
adalah satu bagian dari dewa Ra yang lebih besar. Dewa ini amat terkait dengan
konsep keteraturan dan pengetahuan.
Thoth
biasanya memiliki kepala berupa burung ibis, dan namanya kemungkinan bermakna
"seperti ibis," karena ibis adalah burung yang cerdas.
Lain waktu, Thoth adalah dewa keadilan, dan ia memliki kepala babon, atau tubuh
babon dengan kepala anjing.
Istri Thoth
adalah Ma'at, dan keduanya seringkali ditampilkan berdiri berdampingan di kedua
sisi di perahu Ra. Bersama-sama, Thoth dan Ma'at melambangkan kebenaran,
keteraturan, dan keadilan.
Karena Thoth
begitu cerdas, ia terkait dengan hal-hal yang dilakukan orang-orang cerdas,
terutama dalam penulisan hieroglif. Ia sering digambarkan membawa pena dan lembaran. Thoth juga adalah dewa ilmu pengetahuan
dan sihir. Di Kerajaan baru, Thoth juga dipercaya sebagai penentu nasib arwah
manusia di alam maut.[10]
3.
Firaun dan
dewa dalam Agama Mesir Kuno.
Orang Mesir
menganggap Firaun yang sedang berkuasa sebagai dewa, putra dewa Ra. Dewa Ra
(Re) adalah dewa matahari di Mesir kuno. Ia telah dikenal sejak Kerajaan Lama sekitar 3000 SM. Ia ditampilkan dengan cakram surya
di atas kepalanya. Ra diceritakan menaiki perahu dari matahari
terbit di timur menuju matahari terbenam di barat setiap hari, dengan
ditemani oleh para pengikutnya. Ra diceritakan menaiki perahu kemungkinan
karena orang Mesir biasanya menggunakan perahu jika bepergian melalui sungai
Nil.[11]
Orang Mesir
di Kerajaan Lama mempercayai bahwa firaun yang masih hidup merupakan perwujudan
Horus, sedangkan firaun yang sudah mati sebagai perwujudan Osiris. Di kemudian
hari, orang menganggap bahwa setiap orang yang mati adalah perwujudan Osiris.
Pada masa Kerajaan Baru, sekitar 1500 SM, Osiris dan Re digabungkan menjadi
satu dewa, di mana Re adalah wujudnya ketika siang, dan Osiris adalah wujudnya
saat malam
Horus adalah dewa Mesir yang pada awalnya berasal
dari Mesir Hulu. Di Kerajaan Lama, orang meyakini
Horus memiliki kepala burung alap-alap, dan namanya juga bermakna
"alap-alap" dalam bahasa Mesir. Firaun merupakan bentuk manusia dari
Horus, dan setelah mati, firaun diyakini menjadi bentuk manusia dari Osiris.
Secara umum, Horus adalah dewa langit, putra dewa matahari, Re. Horus juga
adalah dewa perang dan perlindungan melawan kejahatan. Banyak orang membawa jimat
keberuntungan berbentuk mata Horus sebagai pembawa keselamatan.
Akan tetapi
semua itu secara berangsur-angsur berubah pada masa Kerajaan Pertengahan. Orang
kini menganggap Horus sebagai putra Isis dan Osiris.
Horus dilahirkan ketika Isis menghidupkan kembali Osiris setelah Set
membunuhnya. Dengan demikian Horus menjadi dewa kelahiran kembali..
Dalam beberapa
kisah, Horus juga memiliki putra, dari hubungannya dengan ibunya sendiri, Isis.
Biasanya keempat putra Horus bertugas melindungi organ dalam mumi, seperti
halnya Horus melindungi orang hidup.[12]
Disamping itu Firaun mendapat gelar-gelar yang
hebat, seperti “matahari dua dunia”, “tuan atas mahkota”, “dewa yang perkasa”,
“yang abadi”, dan masih banyak lagi. [13]
Sehingga segala yang ada di Mesir merupakan milik Firaun.
Kemudian
beberapa Firaun memiliki nama yang mengandung unsur nama Amon, yaitu dewa
udara, ia pun disembah sebagai dewa ba ("jiwa"), yang
merupakan napas kehidupan manusia, misalnya Tutankhamon. Firaun lainnya,
Akhenamon lalu mengganti namanya menjadi Akhenaten, dari kata aten
("surya"). Dan Amon (Amun) dalam agama Mesir adalah dewa udara dan
angin. Ia terkadang tak kasat mata, seperti udara. Terkadang pula digambarkan
berkulit biru, atau sebagai katak biru, karena warna biru dikaitkan dengan
udara dan Amon sebagai dewa yang penting. Pada akhir Periode Pertengahan
Pertama, Amon disembah sebagai dewa pencipta dunia, dan ia menikahi dewi Mut. Di
Kerajaan Baru, ibukota firaun adalah di Thebes, di
Mesir Hilir, dan kota itu menjadi kota utama penyembahan Amon.[14]
Bab III
Penutup
A.
Kesimpulan
-
Orang Mesir kuno menganut faham politeisme.
-
Mereka yakin bahwa setelah mati mereka
akan dihidupkan lagi dan setiap perbuatan akan mendapat balasan. Diantara
firaun itu ada yang mengajarkan tentang monoteisme.
-
Dewa-dewi dalam agama Mesir Kuno adalah Dzat
yang diagung-agungkan karena mereka dianggap sangat berperan dalam kehidupan.
-
Hubungan antara Firaun dan para dewa
sangat erat karena orang Mesir Kuno meyakini bahwa Firaun adalah keturunan Dewa
bahkan Firaun itu diyakini sebagai Dewa itu sendiri.
B.
Saran
-
Belajar dari agama Mesir Kuno maka kita
harus menjadi orang-orang beragama yang taat kepada Allah dan RasulNya.
Janganlah kita menjadi orang-orang yang membabi buta, mengkultuskan diri atau
orang lain sebagai tuhan.
Daftar Pustaka
-
Tualeka Zn,Hamzah. Sosiologi
Agama. Surabaya: IAIN SA Press, 2011.
-
Iskandar, Mohammad, dan Gonggong, Anhar, Ensiklopedi Sejarah Dan Dunia,Jakarta:
PT. Lentera Abdi, 2009.
-
Wol.jw.org/..../1200003458
Tidak ada komentar:
Posting Komentar