Kamis, 10 April 2014

AGAMA MESIR


Bab I
Pendahuluan[1]
A.    Latar Belakang
Agama adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia baik secara individu maupun dalam kemasyarakatan karena agama mempunyai fungsi yang tidak terlepas dari tantangan-tantangan yang dihadapi manusia. Menurut Edward Burnett Taylor, agama adalah kepercayaan pada sesuatu yang ghaib ( religion is problems of human being ).[2]  Sedang menurut Emile Durkhem Agama adalah sistem yang menyatu mengenai berbagai kepercayaan dan yang terpisah serta terlarang, kepercayaan-kepercayaan dan peribadatan-peribadatan yang berkaitan dengan benda-benda sakral, yakni katakanlah, benda-benda peribadatan yang mempersatukan semua orang yang menganutnya dalam suatu komunitas moral yang disebut gereja.[3] 
Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal, artinya semua masyarakat mempunyai cara Aberfikr dan pola prilaku yang memenuhi syarat untuk disebut “agama.” Agama tidak hanya berhubungan dengan idea tetapi juga merupakan sistem berprilaku yang mendasar. Agama tidak hanya kepercayaan, tetapi juga amaliyah yang berfungsi mengintegrasikan masyarakat, baik dalam perilaku lahiriyah maupun yang bersifat simbolik.
Dalam catatan sejarah hampir tidak ada bangsa yang tidak beragama, apapun bentuk wujud dari agama itu apakah yang tumbuh dari hasil  pengalaman seseorang atau berupa kepercayaan yang bersifat turun menurun dari nenek moyang atau diyakini sebagai sabda atau firman Tuhan Yang Maha Pencipta dan Maha gaib. Mesir Kuno adalah salah satu contoh bangsa yang telah beragama walaupun berupa kepercayaan yang bersifata politeisme yakni mereka percaya bahwa para dewa sebagai pemilik Mesir dan firaun sebagai jelmaan dari para dewa yang dipercaya oleh bangsa Mesir pada saat itu.

B.     Rumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang yang ada maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, adalah :
1.      Apakah Agama Mesir Kuno ?
2.      Bagaimanakah dewa-dewa agama Mesir Kuno ?
3.      Bagaimana hubungan Firaun dengan dewa dalam agama Mesir Kuno ?

C.    Tujuan
Tujuan merupakan harapan yang ingin di capai. Dan harapan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui agama atau Kepercayaan Mesir Kuno.

D.    Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang diharapkan dapat dicapai dari penulisan makalah ini adalah bertambahnya pengetahuan dan wawasan para pembaca dan penyusun  mengenai agama Mesir Kuno.
Bab II
Pembahasan
1.    Agama Mesir Kuno
Seperti di wilayah lainnya di Afrika, orang Mesir kuno menganut politeisme selama Kerajaan Lama, Kerajaan Pertengahan, hingga Kerajaan Baru. Ini artinya mereka meyakini banyak dewa. Para dewa ini disembah dengan kurban hewan serta dengan sesajen dan banyak prosesi dimana orang-orang mengarak patung dewa dari satu tempat ke tempat lain. Mereka meyakini bahwa seluruh Mesir dimiliki oleh para dewa.
Bangsa Mesir kuno percaya bahwa setelah seseorang meninggal, maka Anubis menimbang jiwanya terhadap sehelai bulu, jika jiwanya lebih berat, maka itu artinya semasa hidupnya orang tersebut lebih banyak mlakukan perbuatan jahat. Dengan demikian arwah orang itu akan dihukum. Disamping itu mereka juga percaya bahwa setelah meninggal, arwah manusia pergi ke dunia yang baru, yang mirip dengan dunia saat ini, oleh karena itu di makam ditaruh berbagai benda yang kira-kira bakal diperlukan di alam lain. “Pusat kehidupan bangsa Mesir adalah berkomunaikasi dengan para dewa dan untuk mencapai hal ini, orang Mesir menciptakan ukiran batu yang luar biasa, mereka membangun piramida, kuil raksasa dan mendirikan tugu batu yang tinggi.”[4]
Kemudian ada semacam perkembangan dimana pada masa Kerajaan Baru, firaun Akhenaten memulai penyembahan dewa baru yang disebut Aten. Ia tampaknya ingin membuat rakyatnya percaya bahwa Aten adalah satu-satunya dewa yang sesungguhnya, atau mungkin satu-satunya dewa yang pantas disembah. Setelah Akhenaten meninggal, orang-orang kembali menyembah bermacam-macam dewa seperti sebelumnya.
Pada 539 SM terjadi invasi Persia ke Mesir dan tampaknya tidak memberikan banyak perubahan terhadap agama Mesir. Rakyat Mesir tetap menyembah dewa-dewi mereka sendiri. Dalam hal ini, bangsa Persia membanggakan diri karena menganggap telah memberikan toleransi beragama kepada bangsa Mesir.
Pada 323 SM ketika Ptolemeos ( Yunani ) menguasai Mesir tampaknya terjadi perubahan dimana bangsa Mesir mulai menyembah dewa-dewa Yunani, meskipun mereka juga tetap menyembah dewa-dewa lama Mesir. Pada masa ini pula, orang Yunani di Athena mulai menyembah dewa Mesir, misalnya Isis. Mereka mengenal isis dari para pedagang yang berlayar ke Mesir.
Ketika Romawi menaklukan Mesir pada 30 SM, bangsa Mesir tetap menyembah dewa-dewi mereka sendiri  pada saat yang sama, menyembah dewa-dewi Yunani dan dewa-dewi Romawi.
2.    Dewa-Dewa Mesir
Kita tahu bahwa orang Mesir kuno menganut politeisme artinya mereka meyakini banyak dewa, misalnya :
a.       Isis (Aset, Usat, Iset). Isis bermakna ratu, dalam bahasa Mesir. Dalam mitologi Mesir, Isis menikah dengan saudaranya Osiris. Dapat menghidupkan kembali Osiris. Ibu dari dewa Horus. Memiliki sihir hebat. Orang Mesir berdoa kepada Dewa Isis dengan harapan dapat dilahirkan kembali.[5]
b.        Osiris (Asar, Asari, Aser, Ausar, Ausir, Wesir, Usir, Usire, Ausare) adalah dewa tanaman di Mesir Kuno. Itulah kenapa wajahnya digambarkan berwana hijau, seperti warna sungai Nil yang airnya membuat orang Mesir dapat menghasilkan panen yang baik. Osiris adalah putra sulung dari dewa bumi Geb dan dewi langit Nut. Ini terkait dengan kenyataan bahwa tanaman tumbuh berkat kerjasama antara bumi dan langit. Sebagai raja para dewa, Osiris mengenakan mahkota firaun dan membawa pelengkung dan pemukul gembala. Osiris memiliki saudara dan saudari. Ia menikahi saudarinya sendiri, Isis. Sejak Kerajaan Lama, Osiris telah disembah sebagai dewa alam maut dan kelahiran kembali, serta sebagai dewa tanaman.[6]
c.       Anubis (Inpu, Anapa) adalah dewa arwah dan alam maut di Mesir pada masa Kerajaan Lama. Anubis adalah dewa yang penting pada proses persiapan pemakaman sesorang. Ketika jenazah dibalsem untuk dijadikan mumi, para pembalsem mengenakan kostum Anubis. Anubis juga dipercaya sebagai dewa timbangan hati, untuk mengetahui apakah seorang arwah baik atau jahat.Pada perkembangannya Anubis tak lagi dianggap sebagai dewa arwah utama. Sebagai gantinya, Osiris menempati posisi tersebut. Anubis mulai dipercayai sebagai putra Osiris, serta sebagai pembatu Osiris ketika mengurusi para arwah.[7]
d.      Mut (Maut, Mout) bermakna "ibu" dalam bahasa Mesir, dan di Mesir Kuno, dewi ini disembah oleh orang-orang sebagai dewi ibu sejak permulaan Kerajaan Lama, sekitar 3000 SM. Mut adalah ibu dari segalanya, seluruh dunia, sehingga orang Mesir menganggapnya sebagai samudra, karena mereka percaya bahwa pada awal waktu, segalanya muncul dari samudra. Semua dewa lain dilahirkan dari Mut. Dewa Mut adalah dewa yang sama dengan dewa ratu Isis.[8]
e.       Set (Seth, Setesh, Sutekh, Setekh, Sluty) adalah saudara Isis dan Osiris, dan seperti mereka, ia juga adalah putra dewi langit Nut dan dewi bumi Geb. Set adalah sisi gelap dari saudara-saudarinya - Isis menumbuhkan tanaman, dan Osiris adalah dewa para firaun yang menjaga keteraturan, namun Set adalah dewa kekacauan. Dalam beberapa kisah, Set menunjukkan sisi jahatnya ketika ia dilahirkan. Set tak dilahirkan dengan cara normal, ia keluar dari perut ibunya dengan cara mencabik-cabik rahim dan perut ibunya.
Dalam lukisan, Set biasanya digambarkan dengan rambut dan mata merah, sebagai perlambang bahwa ia aneh dan berbeda. Ia juga memiliki kepala hewan, terkadang kepala buaya, kuda nil, atau babi hitam, semuanya merupakan hewan-hewan yang berbahaya.
Dalam suatu kisah, Set melemparkan saudaranya Osiris ke sungai Nil lalu mencabik-cabik tubuhnya. Putra Osiris, Horus, mencari Set, yang merupakan pamannya, dan bertarung dengannya untuk membalas perbuatan Set terhadap ayahnya. Akibat pertempuran itu, Horus kehilangan mata kirinya, sedangkan Set kehilangan kemampuan untuk memiliki anak.
Akan tetapi dalam kisah lainnya, Set dan Horus disebutkan sebagai aspek berbeda dari satu dewa yang sama. Orang-orang menyembah mereka bersama-sama.[9]
f.       Thoth (Dihauti, Djehuty) adalah dewa pikiran, yang meliputi kecerdasan, pemikiran, akal, dan logika. Orang Mesir sering menganggap Thoth sebagai jantung dan lidah dewa matahari Ra, karena jantung dipercaya sebagai tempat kecerdasan. Thoth adalah satu bagian dari dewa Ra yang lebih besar. Dewa ini amat terkait dengan konsep keteraturan dan pengetahuan.
Thoth biasanya memiliki kepala berupa burung ibis, dan namanya kemungkinan bermakna "seperti ibis," karena ibis adalah burung yang cerdas. Lain waktu, Thoth adalah dewa keadilan, dan ia memliki kepala babon, atau tubuh babon dengan kepala anjing.
Istri Thoth adalah Ma'at, dan keduanya seringkali ditampilkan berdiri berdampingan di kedua sisi di perahu Ra. Bersama-sama, Thoth dan Ma'at melambangkan kebenaran, keteraturan, dan keadilan.
Karena Thoth begitu cerdas, ia terkait dengan hal-hal yang dilakukan orang-orang cerdas, terutama dalam penulisan hieroglif. Ia sering digambarkan membawa pena dan lembaran. Thoth juga adalah dewa ilmu pengetahuan dan sihir. Di Kerajaan baru, Thoth juga dipercaya sebagai penentu nasib arwah manusia di alam maut.[10]
3.        Firaun dan dewa dalam Agama Mesir Kuno.
Orang Mesir menganggap Firaun yang sedang berkuasa sebagai dewa, putra dewa Ra. Dewa Ra (Re) adalah dewa matahari di Mesir kuno. Ia telah dikenal sejak Kerajaan Lama sekitar 3000 SM. Ia ditampilkan dengan cakram surya di atas kepalanya. Ra diceritakan menaiki perahu dari matahari terbit di timur menuju matahari terbenam di barat setiap hari, dengan ditemani oleh para pengikutnya. Ra diceritakan menaiki perahu kemungkinan karena orang Mesir biasanya menggunakan perahu jika bepergian melalui sungai Nil.[11]
Orang Mesir di Kerajaan Lama mempercayai bahwa firaun yang masih hidup merupakan perwujudan Horus, sedangkan firaun yang sudah mati sebagai perwujudan Osiris. Di kemudian hari, orang menganggap bahwa setiap orang yang mati adalah perwujudan Osiris. Pada masa Kerajaan Baru, sekitar 1500 SM, Osiris dan Re digabungkan menjadi satu dewa, di mana Re adalah wujudnya ketika siang, dan Osiris adalah wujudnya saat malam
Horus  adalah dewa Mesir yang pada awalnya berasal dari Mesir Hulu. Di Kerajaan Lama, orang meyakini Horus memiliki kepala burung alap-alap, dan namanya juga bermakna "alap-alap" dalam bahasa Mesir. Firaun merupakan bentuk manusia dari Horus, dan setelah mati, firaun diyakini menjadi bentuk manusia dari Osiris. Secara umum, Horus adalah dewa langit, putra dewa matahari, Re. Horus juga adalah dewa perang dan perlindungan melawan kejahatan. Banyak orang membawa jimat keberuntungan berbentuk mata Horus sebagai pembawa keselamatan.
Akan tetapi semua itu secara berangsur-angsur berubah pada masa Kerajaan Pertengahan. Orang kini menganggap Horus sebagai putra Isis dan Osiris. Horus dilahirkan ketika Isis menghidupkan kembali Osiris setelah Set membunuhnya. Dengan demikian Horus menjadi dewa kelahiran kembali..
Dalam beberapa kisah, Horus juga memiliki putra, dari hubungannya dengan ibunya sendiri, Isis. Biasanya keempat putra Horus bertugas melindungi organ dalam mumi, seperti halnya Horus melindungi orang hidup.[12]
Disamping itu Firaun mendapat gelar-gelar yang hebat, seperti “matahari dua dunia”, “tuan atas mahkota”, “dewa yang perkasa”, “yang abadi”, dan masih banyak lagi. [13] Sehingga segala yang ada di Mesir merupakan milik Firaun.
Kemudian beberapa Firaun memiliki nama yang mengandung unsur nama Amon, yaitu dewa udara, ia pun disembah sebagai dewa ba ("jiwa"), yang merupakan napas kehidupan manusia, misalnya Tutankhamon. Firaun lainnya, Akhenamon lalu mengganti namanya menjadi Akhenaten, dari kata aten ("surya"). Dan Amon (Amun) dalam agama Mesir adalah dewa udara dan angin. Ia terkadang tak kasat mata, seperti udara. Terkadang pula digambarkan berkulit biru, atau sebagai katak biru, karena warna biru dikaitkan dengan udara dan Amon sebagai dewa yang penting. Pada akhir Periode Pertengahan Pertama, Amon disembah sebagai dewa pencipta dunia, dan ia menikahi dewi Mut. Di Kerajaan Baru, ibukota firaun adalah di Thebes, di Mesir Hilir, dan kota itu menjadi kota utama penyembahan Amon.[14]

Bab III
Penutup
A.      Kesimpulan
-          Orang Mesir kuno menganut faham politeisme.
-          Mereka yakin bahwa setelah mati mereka akan dihidupkan lagi dan setiap perbuatan akan mendapat balasan. Diantara firaun itu ada yang mengajarkan tentang monoteisme.
-          Dewa-dewi dalam agama Mesir Kuno adalah Dzat yang diagung-agungkan karena mereka dianggap sangat berperan dalam kehidupan.
-          Hubungan antara Firaun dan para dewa sangat erat karena orang Mesir Kuno meyakini bahwa Firaun adalah keturunan Dewa bahkan Firaun itu diyakini sebagai Dewa itu sendiri.
B.       Saran
-          Belajar dari agama Mesir Kuno maka kita harus menjadi orang-orang beragama yang taat kepada Allah dan RasulNya. Janganlah kita menjadi orang-orang yang membabi buta, mengkultuskan diri atau orang lain sebagai tuhan.















Daftar Pustaka
-          Tualeka Zn,Hamzah. Sosiologi Agama. Surabaya: IAIN SA Press, 2011.
-          Iskandar, Mohammad, dan Gonggong, Anhar, Ensiklopedi Sejarah Dan Dunia,Jakarta: PT. Lentera Abdi, 2009.
-          Wol.jw.org/..../1200003458


[1] Mustaien, Agama Mesir, 2014 Maret.
[2] Hamzah Tualeka Zn, Sosiologi Agama, (Surabaya: IAIN SA Press, 2011), 45.
[3] Ibid., 49.
[4] Mohammad Iskandar, Anhar Gonggong, Ensiklopedi Sejarah Dan Dunia,(Jakarta: PT. Lentera Abdi, 2009), 10-11.
[13] Wol.jw.org/..../1200003458 (22 Maret 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar